Dikegelapan yang misterius tampak menawan di sana, bersama teman setianya. Walaupun kadang tertutupi. Hilang. Cantiknya tetap nyata dan ada.
Bukankah emas di tanah berlumpur tetap bernilai emas?

Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Ketika aku memasuki surga, aku mendengar suara langkah kaki, lalu aku bertanya: “Siapa itu?” Malaikat menjawab: “Itu Ghumaisho’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim: 4494)

Nama aslinya adalah Ghumaisho’ dan juga dipanggil dengan Rumaisho’ binti Milhan dari kaum Anshor, atau yang lebih dikenal dengan kunyahnya yaitu Ummu Sulaim . Ia adalah sosok wanita yang selalu dekat dengan Rosululloh.

Sungguh besar sekali rasa ghibthoh(1) Ghumaisho’ binti Milhan saat melihat orang-orang menyambut kedatangan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam yang hijrah dari Makkah tiba di Madinah. Mereka menemui beliau dengan membawa hadiah sebagai ucapan selamat datang. Ia berpikir apa yang akan ia hadiahkan kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan ia tidak memiliki harta yang dapat dihadiahkan, sebab ia hanya seorang janda miskin yang ditinggal mati suaminya. Suaminya hanya meninggalkan untuknya seorang putra, … sampai di sini pikiran Ghumaisho’ tersentak, sadar bahwa ternyata ia memiliki sesuatu yang sangat berharga. Ya, …seorang putra! Ia berpikir mengapa tidak ia hadiahkan saja putranya, Anas, yang sedari kecil telah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam talqinkan dua kalimat syahadat kepadanya, sehingga membuat suaminya, Malik bin Nadhor, yang musyrik menjadi marah dan menghardiknya (seraya berkata): “Jangan engkau hancurkan kehidupan anakku!” Ummu Sulaim membantah: “ Justru sebaliknya, saya menyelamatkannya.”

Semenjak itulah suaminya pergi meninggalkannya sampai ia meninggal di negeri Syam.

Dengan menggandeng Anas kecil, Ummu Sulaim menuju kediaman Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Tatkala bertemu dengan Rosululloh, Ummu Sulaim mengucapkan salam dan ucapan selamat datang, lalu ia berkata: “Wahai Rosululloh, semua orang Anshor, laki-laki dan perempuan telah memberimu hadiah, sedangkan aku tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk kuhadiahkan kepadamu selain putraku ini. Ambillah ia menjadi pelayanmu.” Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam memandang Anas dengan kasih sayang dan dengan lembut sembari mengelus rambutnya. Beliau menerima Anas yang baru berumur sepuluh tahun itu dengan gembira.

Sebagai janda yang cantik, cerdas dan baik akhlaknya, tidak heran bila Ummu Sulaim menjadi janda kembang yang menjadi incaran para lelaki. Abu Tholhah (Zaid bin Sahal) ketika mendengar bahwa Ummu Sulaim telah menjadi janda, ia langsung mendatanginya untuk melamarnya menjadi istri. Ia khawatir ada orang lain yang mendahuluinya. Namun, impiannya untuk menjadikannya sebagai istri melayang terbawa angan-angan. Ia yakin Ummu Sulaim tak akan menolaknya karena ia adalah seorang bangsawan yang kaya raya, di samping itu ia juga seorang ksatria mumpuni dan ahli memanah. Dengan tekad yang bulat, Abu Tholhah menemui Ummu Sulaim di rumahnya, lalu dengan sopan ia meminta izin masuk. Di rumah itu ia disambut oleh Ummu Sulaim dan putranya, Anas. Tidak lama setelah itu, ia langsung mengajukan lamaran, lantas Ummu Sulaim pun menjawab: “Orang sepertimu tak mungkin ditolak, hanya saja saya tidak boleh menikah dengan orang kafir.”

Abu Tholhah mengira bahwa Ummu Sulaim hanya mencari alasan saja dan telah ada lelaki lain yang lebih kaya atau lebih terhormat darinya yang lebih dahulu melamarnya. Lalu ia berkata kepadanya: “Apa alasanmu tidak menerima pinanganku? Apa kamu ingin emas dan perak?” Ummu Sulaim bertanya keheranan: “Emas dan perak?” Abu Tholhah menjawab: “Benar.” Ummu Sulaim berkata: “Sama sekali bukan karena itu. Demi Alloh, jika engkau mau masuk Islam maka aku rela menjadi istrimu, dan ke-Islamanmu menjadi mahar bagiku, bukan emas dan perak.”

Ketika mendengar ucapan Ummu Sulaim, seketika itu Abu Tholhah teringat berhalanya yang terbuat dari kayu yang biasa ia sembah di rumah. Ummu Sulaim tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, lantas ia berkata: “Wahai Abu Tholhah, apakah engkau tidak tahu bahwa Ilah yang engkau sembah selain Alloh itu hanyalah sekedar kayu yang tumbuh dari bumi?” Ia menjawab: “Benar.” Ummu Sulaim melanjutkan: “Apakah engkau tidak merasa malu menyembah sebatang kayu yang engkau jadikan sebagai Ilah, sedang orang lain menjadikannya sebagai kayu bakar untuk menghangatkan badan atau memasak roti. Wahai Abu Tholhah, jika engkau masuk Islam, aku akan rela menjadi istrimu dan aku tidak menginginkan mahar selainnya.” Abu Tholhah terdiam sejenak, lalu berkata: “Bagaimana caranya?” Ia menjawab: “Dengan mengucapkan: Asyhadu Allaa Ilaaha Illalloh wa Anna Muhammadan Rosululloh.” Dengan dua kalimat syahadat itulah, akhirnya Abu Tholhah menikahi Ummu Sulaim, yang mana tak ada mahar yang paling mulia dari mahar Ummu Sulaim.

Rumah Ummu Sulaim adalah satu-satunya tempat yang dimasuki Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam selain rumah istri-istri beliau. Pernah ditanyakan kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mengapa beliau sering berkunjung ke rumah Ummu Sulaim, maka beliau menjawab: “Aku kasihan kepadanya karena saudaranya(2) terbunuh bersamaku.” Suatu kali, ketika ia datang berkunjung, beliau melihat putra Abu Tholhah yang bergelar Abu Umair sedang bersedih. Lantas beliau bertanya kepada Ummu Sulaim: “Mengapa Abu Umair bermuka masam?” Ummu Sulaim menjawab: “Karena burungnya yang bernama Nughoir mati.” Kemudian Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya dan berkata: “Wahai Abu Umair, apa yang terjadi pada Nughoir?”(3)

Setelah kejadian itu, Abu Umair jatuh sakit. Ketika Abu Tholhah tidak di rumah, anak kesayangannya itu meninggal. Kemudian Ummu Sulaim memandikan dan mengafaninya, lalu menutupinya dengan kain. Kemudian berkata kepada keluarganya: “Jangan kalian beritahukan kepada Abu Tholhah, biarlah aku sendiri yang mengabarinya.”

Ketika Abu Tholhah datang, Ummu Sulaim memakai wewangian dan berhias, lalu menghidangkan makan malam. Setelah makan, Abu Tholhah bertanya kepada Ummu Sulaim: “Bagaimana keadaan Abu Umair?” Ia menjawab: “Ia telah tenang sekarang.” Setelah itu, Abu Tholhah menggauli istrinya.

Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: “Wahai Abu Tholhah, bagaimana pendapatmu bila satu keluarga dipinjami sebuah titipan, lalu pemiliknya memintanya kembali, apakah mereka harus mengembalikannya atau mempertahankan?” Abu Tholhah menjawab: “Mereka harus mengembalikannya.” Ummu Sulaim berkata: “Abu Umair telah meninggal, maka bersabarlah.”

Dengan marah Abu Tholhah menghadap Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan semua kejadian itu. Lalu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Semoga Alloh memberkahi malam kalian.” Setelah itu Ummu Sulaim hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Kemudian Anas membawanya kepada Rosululloh, lalu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mentahniknya dengan kurma, dan dengan lahapnya bayi itu mengulum kurma yang dimasukkan ke mulutnya. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Perhatikanlah, bagaimana sukanya kaum Anshor terhadap kurma.”

Beliau kemudian menamainya Abdulloh, dan tidak ada generasi Anshor yang lebih bagus darinya. Diriwayatkan bahwa Abdulloh bin Tholhah mempunyai tujuh orang anak laki-laki yang semuanya hafal al-Quran.

Dalam hal keberanian, Ummu Sulaim juga memiliki peran yang sangat mengagumkan. Ketika terjadi Perang Hunain, ia keluar membawa sebilah belati. Lalu Abu Tholhah mengadukan hal itu kepada Rosulullohshallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rosululloh, Ummu Sulaim membawa belati.” Mendengar itu, Ummu Sulaim langsung berdalih: “Wahai Rosululloh, aku membawanya bila ada orang musyrik yang mendekatiku, maka aku akan membelek isi perutnya.”

Semoga Alloh meridhoi Ummu Sulaim, Ghumaisho’ binti Milhan .

Referensi:

1. Siyaru A’laamin Nubalaa

2. Al-ishobah fi Ma’rifat Ash-haab

3. Sifatus Shofwah

4. Suwarun min Hayaat ash-Shohaabah

——————————————————————————————————-

(1)“ Ghibthoh adalah perasaan iri terhadap orang lain dalam berbuat kebaikan dan amal sholih. Iri seperti ini dibolehkan dalam agama. (lihat Shohih Bukhori hadits no. 73 dalam Kitabul Ilmi).

(2). Yaitu Harom bin Milhan yang terbunuh di sumur Ma’unah.

(3)  Dalam pertanyaan Rosululloh kepada Abu Umair ini terdapat penjelasan bagi kita tentang bagaimana sifat kasih sayang Rosululloh. Beliau sebagai manusia yang paling mulia juga bercengkrama dengan anak-anak.

Sumber: al-Mawaddah Edisi 04  Tahun 2

via kisahislam.net


Hujan di satu negeri bisa menjadi sebuah hari yang indah, namun di tempat lain dengan takaran yang berbeda bisa menjadi sesuatu yang buruk. Apa yang Anda lihat indah, boleh jadi orang lain melihatnya buruk, maka biasakan diri Anda dengan perbedaan.

@mmajdo - Dr Muhammad Majdu’ asy Syahri pengasuh situs aefaf.com penasihat masalah rumah tangga (via twitulama)

Takdir selalu mengintai di setiap negeri.

Takdir pula yang siap menghancurkan setiap hamba.

Kaupasti akan melihat nasib sebuah kaum yang kaujumpai,

Sebagaimana yang menimpa kaum Tsamud dan ‘Ad.

Apakah kau ingat apa yang terjadi pada Bani Asraf, ahli bangunan dan penakluk gunung?

Apakah kau ingat apa yang terjadi pada Bani Sasan, yang menjadi benteng yang ganas  dan hitam?

Di manakah Dawud dan Sulaiman, panglima penghadang pasukan

Di manakah Namrudz dan anaknya… Dimanakah Qarun dan Haman yang mempunyai banyak pasukan?

Semua tenggelam dalam pusaran takdir, dan tak pernah muncul kembali

Lupa, ataukah kamu pura-pura lupa terhadap takdir kematian

Apakah kamu lupa terhadap hari perpisahan dengan anak-anak?

Apakah kamu lupa terhadap kubur,

Yang akan menjadi tempat tinggalmu, ditemani kehinaan, kengerian dan kesendirian?

Di hari apakah kamu akan dijemput ajal,

Ketika itu kamu dipanggil… dan kau tak mampu menjawab panggilan

Di hari apakah perpisahan itu terjadi, saat seluruh isi tubuhmu terguncang.

Di hari apakah perpisahan itu terjadi, saat engkau menghadapi detik kematian dengan susah payah.

Di hari apakah jeritan itu, ketika wajah ceria dan indah, kini mengguguk.

Mereka menangisi mayatmu dan berduka cita. Dengan hati dan jantung yang berdegup kencang.

Tangis yang nyaring silih berganti. Air mata berlinang deras tiada henti.

Di hari apakah, saat kita diam berdiri di hadapan Allah. Saat terjadi perhitungan amal dan persaksian.

Di hari apakah kita nanti akan meniti di atas neraka. Dalam guncangan yang hebat dan maha dahsyat.

Di hari apakah kita nanti akan terbebas dari neraka, adzab dan belenggu.

Berapa… berapa banyak para raja yang kini menghuni kubur.

Berapa… berapa banyak para panglima perang yang kini terdiam di alam baka.

Berapa… berapa banyak ahli dunia terbujur di liang lahat.

Dan berapa banyak mereka yang zuhud kini membisu ditelan tanah.

Semuanya tenggelam dalam takdir kematian, tanpa dapat lagi keluar darinya.

Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arify (Parit Kematian)

di dalam buku Malam Pertama di Alam Kubur


Hidup itu paket tak terpisahkan antara manis dan pahit perjalanan, hanya yang kekanak-kanakan yang ingin manis-manisnya saja.

(via senjaya)

Next Page